Ziarah Sumbing Rajawali

IMG20170711093944

            Tragedi Sumbing merupakan luka lama bagi warga FTP UGM. Kejadian yang terjadi pada tanggal 25 Februari 1977 menimpa para pendahulu GITAPALA  meninggal dunia yang menjadi korban keganasan alam. Berawal dari tragedi ini terbentuklah wadah bagi warga FTP UGM yang gemar berkegiatan di alam liar. Dibentuknya organisasi pecinta alam bernama Teknologi Pertanian Pecinta Alam (GITAPALA) diharapkan warga FTP memiliki standar operasional dalam berkegiatan di alam liar.

            Berawal dari tragedi ini Ziarah Sumbing menjadi wajib bagi setiap angkatan baru yang ada di GITAPALA. Maksud dan tujuan dari ziarah ini adalah untuk mengenang para pendahulu GITAPALA. Selain itu Ziarah Sumbing juga dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi syarat sebagai anggota penuh GITAPALA.

P_20170712_075229

            Masih hangat dalam benak kami angkatan Rajawali (Aquila clanga) yang kemarin baru saja melakukan ziarah di Gunung Sumbing. Kegiatan ini dilakukan oleh 5 anggota muda yang didampingi oleh 6 anggota penuh GITAPALA. Berangkat pada 11 Juli 2017 jam 09.45 dari kantor GITAPALA menuju Wonosobo dengan menggunakan bus dari terminal jombor. Setelah 4 jam perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya pada jam 14.30 WIB rombongan telah sampai di kediaman kang Tolib “Anggota Luar Biasa (ALB) GITAPALA”.

IMG20170711223238

            Dengan niat khidmat untuk berziarah dan mendoakan para pendahulu, rombongan mulai melakukan pendakian dari basecamp Sumbing jam 18.15 WIB. Dengan nafas terengah-engah pada jam 24.00 rombongan sampai Pasar Setan (PESTAN) dan memutuskan untuk istirahat, mendirikan tenda dan bermalam di PESTAN.


makan

            Pagi harinya setelah menyantap sarapan dengan berbagai menu spesial dari chef-chef dadakan GITAPALA, jam delapan pagi rombongan melanjutkan perjalanan ke tempat ziarah. Dengan sambil meluruskan niat pendakian selama perjalanan, rombongan sampai di tempat ziarah (in memoriam) pada jam 11.30 WIB. Pada pukul dua belas tepat rombongan GITAPALA melakukan upacara ziarah dengan dipimpin oleh ketua umum GITAPALA, Angga Prayogo. Pembacaan doa dan penaburan bunga dilakukan dengan khidmat untuk mengenang para pendahulu. Kegiatan ini diakhiri dengan dilantiknya 5 anggota Rajawali (Abdul, Bagas, Gina, Lilik dan Hasnan) menjadi anggota penuh GITAPALA. -hamid-

IMG20170712131041_1 IMG20170713074337P_20170712_074804 2017-07-26_22.14.29

IMG20170712121223

IMG20170712130903

Menyapa Mahasiswa Baru FTP 2016. “calon pecinta alam yang tangguh”

PPSMB Agrophoria Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Tanggal 04-Agustus-2016, GITAPALA menyapa mahasiswa baru angkatan 2016 dalam sesi eksebisi lembaga yang diadakan rutin setiap tahun oleh fakultas, eksebisi lembaga sendiri diadakan dalam rangka mengenalkan dunia kampus kepada mahasiswa mahasiswa baru agar dapat lebih mengetahui lembaga-lembaga apa saja yang ada di fakultas TP ini, dan nantinya mereka dapat memilih lembaga mana yang akan diikuti selama masa perkuliahan agar dapat berjalan positif dan lebih berwarna.

IMG-20160810-WA0006

GITAPALA  sendiri memberikan sedikit penjelasan untuk menjalani masa perkuliahan dengan memaksimalkan kebermanfaatan kepada masyarakat dan lingkungan dalam sudut pandang sebagai mahasiswa pecinta alam.

IMG-20160810-WA0000

(sambutan Ketua GITAPALA)

IMG-20160810-WA0001

(penjelasan divisi)

IMG-20160810-WA0002IMG-20160810-WA0003(sesi perkenalan anggota GITAPALA)

 

 

 

Bercengkrama Bersama Romantisnya Tebing Parang Endog

   Sebagai salah satu divisi yang ada di GITAPALA, panjat tebing menjadi salah satu pilar penting yang menopang berdirinya GITAPALA itu sendiri. Dengan adanya tanggung jawab untuk menjaga kestabilan jalannya organisasi, panjat tebing secara rutin melaksanakan kegiatan di bidang panjat. Tebing ini berlokasi di daerah Gunung Kidul, bagian timur Pantai Parangtritis. Selain bertujuan untuk upgrade materi di bidang panjat tebing juga untuk menambah jam terbang climber GITAPALA.

Adalah Tebing Parang Endog yang kali ini menjadi tujuan tim panjat tebing GITAPALA. Tebing ini tentu sudah tak asig lagi terutama untuk para climber yang berdomisili di daerah Yogyakarta karena sering digunakan untuk berkegiatan. Spot-spot yang ada di tebing ini menyediakan jalur untuk sport climbing dan juga artificial climbing.

Kegiatan pemanjatan ini dilakukan pada tanggal 16-17 April 2016 dengan mengambil kesempatan weekend Sabtu-Minggu untuk mengisi waktu luang. Agenda pemanjatan kali ini adalah menerapkan teknik pemanjatan sport climbing, artificial climbing dan cleaning.

peralatan panjat2

Persiapan Peralatan Panjat Tebing

 

Prinsip utama melakukan kegiatan berbasis outdoor adalah safety first. Tujuan terpenting dari semua kegiatan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa adalah keselamatan para petarungnya. Begitu halnya di panjat tebing, peralatan menjadi nyawa dari setiap climber yang melakukan pemanjatan. Maka setiap kali sebelum melakukan pemanjatan, checklist peralatan menjadi sangat penting karena selain untuk mengecek ke-safety-an alat juga untuk menjaga alat dari kehilangan. Checklist dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah melaksanakan pemanjatan.

artificial climbing2artificial climbing

Artificial climbing

   Artificial cimbing merupakan teknik pemanjatan tebing yang menggunakan lubang tebing atau cacat tebing untuk memanjat dan memasang pengaman, mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda tergantung jenis tebing dan ketinggian tebing yang di panjat.

   Artificial climbing sama dengan pendaki gunung, hanya medannya saja yang berbeda, tujuannya untuk mencapai puncak dengan bantuan alat-alat pengaman. Pengaman yang digunakan dalam artificial climbing meliputi belay device, harnest, dan tali karmantel untuk belayer yang di hubungkan dengan pemanjat, sedangkan alat yang digunakan pemanjat adalah sepatu, harnest, serta pengaman tambahan seperti pengaman sisip berupa friend, piton, chock stopper, chock hexentris, dan alat lain untuk menunjang keselamatan pemanjat untuk mencapai top. Oleh karena itu diperlukan kemampuan khusus untuk melakukan pemanjatan artificial.

   Perjalanan pemanjatan kali ini diikuti oleh 10 orang yang terdiri dari Abmandala K. N (Plenyek), Iswanto, Yohanes R.P (Pelor), Novi T (Demplok), Sarah H., Galih A.P., Rachmat S., Win P., Putri V.T.,  dan Fiqi A.F. Keberangkatan tim panjat tebing GITAPALA dimulai hari Jumat, 15 April 2016 dari Kantor GITAPALA. Pada pukul 15.30 WIB tim melakukan persiapan berupa peralatan panjat tebing dan melakukan briefing terlebih dahulu di taman GITAPALA pada jam 16.45 WIB. Pada pukul 17.00 WIB tim berangkat dari GITAPALA sampai di lokasi pemanjatan sekitar pukul 18.05 WIB. Sesampainya di lokasi tim mendirikan dome dan beristirahat. Artificial climbing dilakukan pagi harinya mulai jam 7.30 WIB. Setelah sarapan dan pemanasan, pemanjatan dilakukan sampai jam 16.00 WIB. Setelah itu tim melakukan cleaning peralatan dan evaluasi di tempat pendirian camp untuk pemanjatan hari pertama ini.

sport climbing

Sport climbing

   Sport climbing yaitu salah satu olahraga yang mengandalkan kekuatan tangan dan seni serta teknik pemanjatan yang membutuhkan kemampuan dan pelatihan khusus. Pemanjatan sport ini berbeda dengan pemanjatan artificial bedanya pada pengaman yang digunakan, pemanjatan sport hanya menggunakan runner, sepatu panjat, harnest, tali karmantel untuk pemanjat dan chalk bag tanpa menggunakan pengaman sisip tambahan yang lain. Sport climbing dilakukan bersama dengan cleaning bersih atau simpul lepas. Cleaning bersih merupakan teknik perbersihan alat di tebing dengan menggunakan teknik SRT (single rope technic) dengan tidak meninggalkan peralatan pemanjatan di tebing.

   Sport climbing dilakukan pada hari minggu, 17 April 2016 pagi jam 7.00 WIB setelah sarapan dan pemanasan. Sport cimbing dilakukan hingga pukul 13.00 WIB  dan selanjutnya praktik cleaning simpul lepas hingga pukul 16.30 WIB lalu setelah itu dilakukan evaluasi. Tim kembali ke GITAPALA sekitar pukul 18.30 WIB.

   Bercengkrama dengan romantisnya tebing menjadikan kita semakin memiliki asa untuk selalu melestarikan alam ini. Tidak hanya untuk keidahan tebing-tebing cadas nan eksotik yang tinggi menjulang dihamparan pantai tetapi seluruh tempat-tempat yang menjadikan saksi akan kebesaran Tuhan dalam menciptakan jagat raya ini.

PENGALAMAN PERTAMA CAVING DI PURWOREJO

12208422_873065269476834_1317012001347702594_n 12208532_873064822810212_5864418895160093928_n
Caving merupakan salah satu kegiatan yang bisanya kami lakukan semenjak menjadi anggota Gitapala. Caving kali ini bebeda dengan caving sebelumnya. Hal ini kerena lokasi yang baru bagi kami tim caving Gitapala (Ibnu, Gama dan Agung). Lokasi tersebut berada di Purworejo, tepat nya Goa Seplawan dan Goa Ngobaran. Refrensi caving ke Purowerjo ini didapat dari teman-teman sesama mahasiswa pencinta alam. Hanya berbekal dengan informasi jalan menuju salah seorang teman kami melakukan survey ke lokasi yang ditunjukan, yaitu rumah dari Mbah Cokro. Mbah Cokro adalah seorang yang bisa dikatakan juru kunci goa di daerah Purworejo karena beliau hafal hampir semua goa dan medan dalam goa.
Mbah Cokro adalah mbah yang istimewa bagi kami, diusianya yang sudah senja beliau masih sangat kuat. Baik kuat fisik atau pun ingantan. Beliau juga sangat baik terhadap kami. Dari mbah Cokro lah kami ditunjukan beberapa goa yang ada di sana, antara lain adalah Goa Temanten Goa Ngobaran dan Goa Seplawan. Dari ketiga goa tersebut kami memilih untuk masuk ke 2 goa yaitu seplawan dan ngobaran.
Setelah survey selesai kemudian kami memutuskan hari untuk pelaksana susur goa. Pilihan jatuh pada 30 Oktober -1 November yang kebetulan adalah hari libur dan tidak ada kegiatan lain. Setelah menentukan tanggal tersebut kami menyiapkan rencana dan peralatan untuk memasuk ke dua goa tersebut.
Ketika tiba pada hari H kegiatan kami (Ibnu, Budi, Bita, Agung, dan Riyan) berangkat dari kampus jam 20.00 WIB dan sampai sana kami pukul 11.00 WIB. Kebetulan gama menyusul di tangal 31 OKtober. Kali ini berbeda dengan perjalan survey yang telah kami lakukan , karena perjalan perjalan dimulai pada malam hari dan jalan menuju rumah mbah Cokro sangat minim penerangan. Sehigga membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Setibanya disana kami disambut dengan hangat oleh mbak Cokro dan keluarga tak lupa ditemani 1 teko teh panas yang menghangatkan malam kami.
Setelah beristrihat hingga pagi tiba kami pun melakukan persiapan dan brifing untuk memasuki Goa Seplawang di hari ke 2 ini, dan tak lupa juga sarapan pagi. Seletah persiapan selesai kami mulai perjalan menuju Goa Seplawan menggunakan motor karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah Mbah Cokro. Goa Seplawan adalah goa horizontal yang memiliki banyak cabang. Goa Seplawan merupakan goa untuk wisatawan, namun itu hanya satu jalur saja. Sedangkan Goa Seplawan memliki banyak cabang yang belum terjamah oleh wisatawan. Pada awalnya kami masuk goa dengan jalur wisatawan kemudian kami memlih cabang lain dan menjauhi jalur wisata. Setelah berjalan cukup lama dengan suasana gelap dan lorong sempit yang berliku. Terlihatlah pemangangan yang sangat indah, ornament-ornamen yang terbentuk diri aliran tetesan air selama puluhan atau bahkan ribuan tahun berkilauan dia gelap nya goa seplawan.
Setelah mencapai lorong yang sangat sempit dan tidak mungkin kami masuk lebih dalam lagi, kami memutuskan untuk kembali ke jalur awal, yaitu jalur wisata. Dan kami memutuskan untuk keluar dari goa.
Setelah keluar dari goa kami mencari tempat teduh untuk memasak dan ngopi bersama. Puas ngopi dan makan kami kemudian kembali ke rumah Mbah Cokro. Sesampainya di rumah Mbah Cokro kami di sambut dengan 1 teko teh hangat. Tak lama tiba di rumah mbah Cokro, tim kami yang lain (Gama) menyusul dari jogja sendiri. Setelah semua mandi dan istirahat kami mempersiapkan alat yang dibutuhkan untuk masuk goa selanjutnya. Karena goa yang selanjutnya kami masuki adalah Goa Ngobaran. Goa Ngobaran adalah Goa vertical, maka perlu disiapkan alat-alat kusus yaitu SRT set dan alat-alat penujang lainnya. Setelah persiap selesai istirahat dan tidur, tak lupa kami makan malam bersama.
Ketika sudah pagi kami bersiap siap dan brifing untuk mengecek kesiapan masuk goa ngobaran. Tak lupa kami pun sarapan pagi untuk menambah energy. Perjalan ke goa ngobaran kami memilih jalan kaki, karena kebetulan dekat. Selain dekat dengan jalan kaki lebih santai, hitung hitung pemanasan tambahan sebelum masuk goa. Sesampai nya di goa kami membagi tugas. Saya (ibnu) yang berperan sebagai leader, ancor men dan riging. Sedang kan yang lain ada yang mepersiapkan alat yang saya butuhkan. Tak lupa ada juga yang memperispkan masakan untuk makan siang sehabis keluar goa.
Setelah jalur selsai terbuat dan tidak ada friksi. Saya sebagi leader turun terlibih dahulu. Kemudian dilanjukan Gama dan Agung. Setelah semua turun sampai bawah, kami mulai melakukan penyusuran dan tidak disangka kami mendaptkan kejutan yang sangat buruk. Terdapat banyak sekali kelelawar yang mati terperangkap jaring pemburu. Goa ngobaran ternyata digunakan untuk perburuan kekelawar, mungkin karena pemburu lupa mengecek jaringnya sehingga banyak kelelawar yang mati. Kemudian kami memutuskan untuk langsung naik ke mulut goa. Sesampai nya semua anggota naik ke atas kami membereskan alat yang kami gunakan tadi dan kami packing kembali.
Selatah itu kami beristirahat dan makan siang di dekat goa. Kemudian makan tak lupa kami melakukan evaluasi kegiatan selama 3 hari ini. Setelah beres semua. Kami pulang kerumah mbak cokro untuk istirahat dan mandi. Kemudian kami berpamitan ke pada Mbah Cokro dan kami langsung menuju ke jogja kembali.

HARI PERINGATAN KONSERVASI SELAMA SETAHUN

10-Jan HARI SEJUTA POHON
02-Feb HARI LAHAN BASAH SEDUNIA
16-Mar HARI BHAKTI RIMBAWAN
21-Mar HARI KEHUTANAN SEDUNIA
22-Mar HARI AIR SEDUNIA
22-Apr HARI BUMI SEDUNIA
03-Mei HARI WORLD MIGRATORY BIRD DAY
04-Mei HARI PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN SEDUNIA
09-Mei HARI BURUNG SEDUNIA
22-Mei HARI KEANEKARAGAMAN HAYATI SEDUNIA
31-Mei HARI BEBAS TEMBAKAU (NO TOBACCO DAY)
05-Jun HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA
08-Jun HARI LAUTAN SEDUNIA
17-Jun HARI MELAWAN DESERTIFIKASI DAN MASA KEKERINGAN SEDUNIA
26-Jun HARI KELESTARIAN HUTAN TROPIS
29-Jul HARI KONSERVASI HARIMAU
16-Sep HARI KELESTARIAN OZON SEDUNIA
27-Sep HARI PARIWISATA SEDUNIA
29-Sep HARI LAUTAN
16-Okt HARI PANGAN SEDUNIA
01-Nop HARI EKOLOGI SEDUNIA
05-Nop HARI CINTA PUSPA DAN SATWA NASIONAL
21-Nop HARI POHON
28-Nop HARI MENANAM POHON SEDUNIA
03-Des HARI PERUBAHAN IKLIM
11-Des HARI GUNUNG SEDUNIA

Ini Puncakku, Mana Puncakmu?

Kalo boleh jujur ni ya, dari sekian jurusan, maksudnya divisi yang ada di GITAPALA, naik hutan masuk gunung (kewalik om) adalah kegiatan yang paling aku banget. Tapi kalo boleh jujur lagi, jam gunung ku bisa dihitung jari, sangat tidak bisa dibandingkan dengan teman-teman yang feelnya sangat “agung” alias “anak gunung”.

Tapi entah kenapa menjadi sering aku ditanya semacam ini, “tingginya (gunung) berapa?” atau “berapa jam perjalanan sampai puncak?”, atau juga “gimana summit attacknya?”. Tidak ada yang aneh kan dengan pertanyaan itu. Ekspektasi orang yang lihat aku naik gunung ya muncak. Sudah jauh jauh, nggak muncak kan sayang banget. Tapi, tidak ada angin tidak ada hujan, tibalah hari itu, saat aku ditampar untuk menyadari sesuatu.

Masih hari di tahun 2014, aku menjadi mulai jenuh. Hampir 9 bulan men aku nggak muncak. Katanya agung? Jangan-jangan cuma ngaku-ngaku saja? Sebenarnya sih sempat naik (dan turun lah), tapi cuma bermain-main di lereng aja. Menurut kalian nggak masuk hitungan kan? Intinya nggak muncak. Akhirnya tekad menuju puncak kubulatkan di bulan juni tahun ini. Tujuannya ke gunung yang bagi sebagian orang masih asing (kenalan lah)! Argopuro.

Gila keren sumpah. Kalian tahu apa yang membuat keren? Perjalanannya. Kenapa keren? Panjang coy. Kenapa panjang? Karena yang dilewati adalah kawasan pegunungan (bukan gunung single) yang harus naik turun berkali-kali untuk sampe puncak tertinggi. Kok bisa? Jawab sendiri sana lah. Yang namanya puncak Argopuro aja baru bisa dilihat bentuknya setelah jalan 3 hari dari basecamp. Kalau ditotal, kami membutuhkan waktu 5 hari perjalanan dari basecamp sampai turun basecamp lagi. Dan kalian tahu berapa waktu yang kuhabiskan di puncak? di tempat yang kutunggu-tunggu setelah 9 bulan diam? tempat yang menjadi tekad bulat tujuanku untuk perjalanan ini? Hanya 30 menit. Otomatis 4 hari 23 jam 30 menit sisanya jatuh di jalan kan. Tapi, aku bahagia-bahagia aja. Nggak nyesel. Kenapa? Nanti kuberi tahu.

Banyak orang naik gunung memang karena ingin menuju puncaknya. Peduli amat selama di jalan, mau capek, sakit, lunglai, lesu, lanjut terus. Malu juga sama kawan lain yang bisa sampai puncak, masa diri sendiri nggak. Kadang memang rasa malu kepada yang lain menjadi modus sebagian orang dalam naik gunung. Kita jadi malu saat dikira tidak bisa mengalahkan diri sendiri gara-gara berhenti di tengah jalan. Akhirnya selalu puncaknya gunung yang akan menjadi tujuan.

“Ya Puncak orang itu kan beda-beda”. Argopuro lah yang membuatku mulai mau untuk memahami kata-kata ini. Sebenarnya apa yang dicari di puncaknya gunung? mungkin sunset? Sunrise? Pemandangan bagus? Berdiri di atas awan? Udah, hentikan angan-angan indahmu itu mbak. Gak ono. Seperti inilah indahnya Argopuro. Cantik sunset, sunrise, awan, serta pemandangan tertutup oleh rindangnya pohon di puncaknya.

Gambar 1 : puncak lo ini!

Gambar 1 : puncak lo ini!

Jadi, cuma ini yang kau dapat setelah 5 hari naik gunung? Oh, jangan sedih. Bahkan keindahan yang kamu maksud itu sudah kami temukan setelah jalan 1 jam perjalanan.

Gambar 2 : Sunrise di ladang warga

Gambar 2 : Sunrise di ladang warga

Gambar 3 : pemandangan setelah 2 jam perjalanan (masih ladang)

Gambar 3 : pemandangan setelah 2 jam perjalanan (masih ladang)

Gambar 4 : hari kedua  di sabana pertama

Gambar 4 : hari kedua di sabana pertama

dan ini juara dari perjalanan kami

Gambar 5 : Hari kedua di sungai pos Cikasur

Gambar 5 : Hari kedua di sungai pos Cikasur

Gambar 6 : Sungai pos Cikasur diambil dari atas

Gambar 6 : Sungai pos Cikasur diambil dari atas

Gambar 7 : Kabut di pagi hari. Panggil saja dia awan

Gambar 7 : Kabut di pagi hari. Panggil saja dia awan

Gambar 8 : sunrise hari ketiga masih di Cikasur

Gambar 8 : sunrise hari ketiga masih di Cikasur

Gambar 9 : di perjalanan

Gambar 9 : di perjalanan

Gambar 10 : walaupun judulnya naik gunung, kadang juga perlu turun dulu

Gambar 10 : walaupun judulnya naik gunung, kadang juga perlu turun dulu

Dari semua hal itu, kami adalah kami, tidak sendiri.

Gambar 11 : Capek menjadi tidak terasa saat, saat kita istirahat

Gambar 11 : Capek menjadi tidak terasa saat, saat kita istirahat

Gambar 12 : selfi sek

Gambar 12 : selfi sek

Panjang kan? Ya maksud dari tulisanku ini adalah, kadang kau tidak perlu puncak untuk menemukan apa yang kamu cari. Aku menemukan semua yang indah-indah selama 5 hari itu bahkan di 4 hari 23 jam 30 menit perjalananku. Sunset, sunrise, awan-awanan, pemandangan bagus, teman ngaplo masak tidur sambat, dan hal-hal super keren lain yang bisa kutemukan selain di puncak. Inilah puncakku, sekarang saatnya kau tentukan mana puncakmu!

Tambak Udang di Pesisir Pantai Trisik

tambak udang

Tambak Udang

Samudera Indonesia masih menyediakan air laut yang bersih bagi masyarakat pesisir pantai selatan, mungkin itulah yang menjadi alasan mengapa di sepanjang bibir pantai trisik banyak terdapattambak udang.

Tambak udang yang mulai buming sejak tahun 2013 ini, kini pembangunannya makin menjadi-jadi. Di sepanjang pantai, dari pintu penangkaran penyu hingga ke muara Sungai Progo, pembangunan tambak ini semakin menjadi-jadi. Pertanian lahan pasir yang dulunya ada di sini, kini  beralih fungsi menjadi tambak udang. Tak heran jika sejauh mata memandang, hanya terlihat tambak udang.

Pembangunan tambak udang secara besar-besaran tersebut, tentunya akan memicu gejolak alam. Pembuangan air limbah tambak ke laut, tentunya akan menurunkan kualitas air, sehingga kelestarian laut selatan akan terganggu. Hal ini pun akan berdampak bagi tambak hasil panaen udang, karena makin lama kualitas air yang digunakan menurun.

pipa pembuangan

Pipa Pembuangan

Pipa-pipa pembuangan limbah tambak yang langsung menuju ke laut, tentunya tidak melewati proses penyaringan. Hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya gejolak baru dari alam.

Sebagian besar para petani tambak tidak terlebih dahulu menyaring atau mengolah limbah tambak mereka. Terbukti, kami menyaksikan saluram pipa pembuangan yang mengarah ke laut, ada pula yang mengarah ke sungai Sen yang akan bermuara di laut, dan juga ada sebagian yang menampung limbah pembuangan tambak terlebih dahulu.

Selain berdampak terhadap turunnya kualitas air, pembangunan tambak secara besar-besaran ini juga akan menggangu air tanah dan menjadi penyumbang factor penyebab abrasi. Hal ini dikarenakan para petani tidak menyedot secara langsung air dari laut, namun mereka membuat sumur bor untuk menyuplai air tambak mereka.

bor sumur

 

Bisa dibayangkan, seberapa banyak sumur bor yang dibuat untuk menyuplai berhektar-hektar tambak. Penyedotan air asin yang ada di dalam tanah ini, kana mengganggu ketersediaan air tawar di dalam tanah. Air asin (laut) yang memiliki berat jenis lebih berat dari air tawar, bila ada di dalam tanah akan berada di bawah air tawar. Bila penyedotan air asin secara berlebihan maka tidak memungkiri ketersediaan air tawar juga akan tersedot, sehingga ketersediaan air tanah untuk pertanian lahan pasir juga akan terganggu.

Beruntug, ditengah perjalanan kami menuju muara sungai Progo, kami bertemu segerombolan petani tambak yang sedang membuat sumur bor. Kami sedikit berbincang-bincang dengan mereka, dan kami mendapatkan informasi bawasannya disamping tempat pengeboran ini akan dibangun yambak udang lagi.

Kami melihat pada saat mengebor sumur, mereka menggunakan dolomit, dengan tujuan agar pasir atau tanah tidak banyak yang kembali ke permukaan. Fungsi dolomit sudah berganti, dulunya dolomit digunakan oleh petani untuk mensetabilkan pH tanah, kini menjadi bahan bantu untuk pengeboran sumur.

Pertanian Lahan Pasir vs Tambang Besi

lahan pasir

Pertanian Lahan Pasir

Sebelum kaki kami menginjak pantai Trisik, kami harus berjalan melewati lahan pertanian yang luas. Uniknya , tanaman yang ada disini tidak tumbuh di atas tanah, namun tumbuh di atas lahan berpasir. Tanaman melon,semangka, dan papaya tumbuh dengan subur di sini, karena tanaman tersebut akan tumbuh dengan baik bila tidak ada genangan airnya.

Sudah barang tentu, untuk mengolah lahan pertanian di sini perlua adanya rekayasa pertanian dan pengolahan lahan tanam yang tepat, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan panenyang melimpah.

Tumbuhan melon di lahan biasa menghasilkan satu hingga dua buah pada satu pohonnya, namun di sini, satu tanaman melon dapat menghasilkan dua hingga tiga buah dan kualitas buahnya boleh dikatakan super (baik). Menurut warga yang tinggal di sekitar lahan pasir ini, untuk menanam melon dan semangka, para petani tidak takut gagal karena hujan maupun kebanjiran, sehingga banyak warga berbondong-bondong untuk bertani di lahan yang sejatinya milik Keraton.

pasir besi

 

Disepanjang jalan pertanian lahan pasir, di kiri-kanan terpampang tulisan kecaman terhadap tambang besi. Tulisan-tulisan itu tentunya di buat oleh para petani yang menolak adanya penambangan besi di kasawan itu.

Kawasan pesisir selatan Kulon Progo, ternyata menyimpan sumberdaya yang sangat melimpah. Selain tanah berpasir yang ternyata bisa diolah, terdapat kandungan besi yang tertanam di dalam tanah berpasir ini. Sumber daya tersebut tentunya sangat menggiurkan bagi investo-investor tambang.

Dari segi lingkungan, memang lahan pesisir akan lebih baik digunakan untuk lahan pertanian daripada di tambang kandungan besinya. Pemanfaatan lahan pasir dengan pertanian, tentunya akan meningkatkan kesuburan tanahnya. Berbeda halnya dengan penambagan, yang akan menimbulkan pencemaran serta problema alam. Namun dari segi ekonomi, penambangan besi lebih menguntungkan untuk jangka pendek. Hal tersebut menjadi problema bagi masyarakat pesisir itu.

Kami sebagai pencinta alam, tentunya menginginkan pemanfaatan alam dilakukan secara arif agar tidak terlalu menggangu alam serta tidak menimbulkan permasalahan lingkungan, toh yang rugi juga kita sendiri, jika alam makin hari makin rusak.